Apakah Kehidupan di Planet Mirip Bumi K2-18b Memang Ada?

3 hours ago 1

loading...

Planet Mirip Bumi K2-18b. FOTO/ VIET

LONDON - Para ilmuwan baru saja meluncurkan perburuan alien dalam kampanye pengamatan berskala besar yang menargetkan planet misterius K2-18b.

Dalam beberapa tahun terakhir, K2-18b telah menjadi salah satu eksoplanet paling menarik bagi para astronom, dengan potensi untuk menampungkehidupan ekstraterestrial.

Terletak sekitar 124 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Leo, planet ini mengorbit bintang katai merah dan berada di dalam zona di mana air cair dapat eksis, yang sering disebut sebagai "zona layak huni".

Berkat pengamatan dari Teleskop Luar Angkasa James Webb,para ilmuwanmenemukan bahwa atmosfer K2-18b mengandung sejumlah besar karbon dioksida dan metana.

Kombinasi unik ini menjadikannya kandidat utama untuk kelompok planet yang dikenal sebagai "Hycean" –duniadengan atmosfer kaya hidrogen yang menutupi lautan air cair yang luas yang membentang di seluruh planet.

Karena karakteristik yang menjanjikan ini, K2-18b telah menarik perhatian para peneliti dalam program Pencarian Kecerdasan Ekstraterestrial (SETI).

Baru-baru ini, sebuah tim ilmuwan internasional menggunakan dua teleskop radio paling canggih di dunia untuk memantau sistem bintang planet tersebut, dengan harapan dapat mendeteksi sinyal teknologi yang dipancarkan oleh peradaban luar angkasa.

Hasil penelitian, yang dipublikasikan sebagai manuskrip ilmiah diarXiv,menunjukkan bahwa, meskipun sistem tersebut merekam jutaan sinyal potensial selama pengamatan, tim peneliti tidak mendeteksi sinyal radio pita sempit buatan yang kemungkinan berasal dari K2-18b pada tingkat teknologi yang setara dengan manusia modern.

Untuk melaksanakan kampanye pengamatan berskala besar ini, para ilmuwan mengerahkan dua fasilitas astronomi terkemuka di dunia: jaringan teleskop radio Karl G. Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico, AS, dan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan.

Keduanya merupakan alat pengamatan radio tercanggih di Bumi. Koordinasi simultan antara dua sistem seperti itu jarang terjadi, karena membutuhkan tingkat sinkronisasi teknis dan pemrosesan data yang sangat kompleks.

Mungkinkah asteroid yang tidak merusak menjadi 'induk' kehidupan di Bumi?
Namun, dalam astronomi radio modern, perangkat keras hanyalah setengah dari cerita. Sama pentingnya adalah sistem perangkat lunak yang bertanggung jawab untuk menyaring dan menganalisis sejumlah besar data yang dikumpulkan.

Sebagian besar sinyal yang ditangkap oleh teleskop radio sebenarnya berasal dari aktivitas manusia di Bumi, mulai dari satelit dan sistem telekomunikasi hingga perangkat elektronik lainnya.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |