Ayah Hadir, Indonesia Kuat: Melawan Fenomena Fatherless demi Generasi Emas 2045

7 hours ago 2

loading...

Muktiani Asrie Suryaningrum, S.Sos., MPH. Foto/Istimewa

Muktiani Asrie Suryaningrum, S.Sos., MPH
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) Ahli Madya, Pengurus Pusat Koalissi Kependudukan Indonesia (KKI), dan Pengurus Pusat Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)

FENOMENA fatherless yang dialami sekitar satu dari empat anak Indonesia menjadi tantangan serius pembangunan sumber daya manusia. Momentum Hari Keluarga Nasional 2026 mengingatkan bahwa masa depan bangsa dimulai dari keluarga, dan dari kehadiran seorang ayah .

Setiap tanggal 29 Juni, Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Berbeda dengan berbagai peringatan nasional lainnya yang identik dengan seremoni, Harganas sesungguhnya mengandung pesan yang jauh lebih mendasar: mengingatkan bangsa bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia bermula dari kualitas keluarga.

Di tengah bonus demografi, percepatan digitalisasi, meningkatnya tantangan pengasuhan, perubahan struktur keluarga, hingga meningkatnya persoalan kesehatan mental anak dan remaja, peringatan Hari Keluarga Nasional tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan. Harganas merupakan momentum refleksi nasional mengenai sejauh mana keluarga Indonesia mampu menjadi benteng pertama dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan tangguh.

Baca Juga: Hari Keluarga Nasional, Momentum Keluarga Indonesia Cegah Stunting

Peringatan Hari Keluarga Nasional Tahun 2026 mengusung tema "Ayah Wajib Hadir". Tema ini sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam. Selama bertahun-tahun perhatian publik lebih banyak diarahkan pada pentingnya peran ibu dalam pengasuhan. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh keterlibatan kedua orang tua, termasuk kehadiran ayah secara fisik maupun emosional. Pertanyaannya, mengapa negara kini menaruh perhatian besar terhadap peran ayah? Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keluarga Indonesia?

Sejarah Harganas: Dari Kembalinya Pejuang ke Penguatan Ketahanan Keluarga

Lahirnya Hari Keluarga Nasional (Harganas) tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Setelah Jepang mengalahkan Belanda pada 1942, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, Belanda berupaya kembali menjajah Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu yang datang melucuti tentara Jepang.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung melalui pertempuran bersenjata dan jalur diplomasi. Setelah mendapat tekanan internasional, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia. Pada 29 Juni 1949, pasukan Belanda terakhir meninggalkan Yogyakarta dalam peristiwa yang dikenal sebagai Yogya Kembali. Momen ini menjadi simbol berakhirnya perjuangan fisik, sekaligus saat para pejuang dapat kembali berkumpul dengan keluarga setelah bertahun-tahun berpisah.

Semangat kebersamaan keluarga inilah yang kemudian menginspirasi Kepala BKKBN saat itu, Dr. Haryono Suyono, untuk menggagas Hari Keluarga Nasional. Gagasan tersebut disetujui Presiden Soeharto, dan Harganas pertama kali diperingati pada 29 Juni 1993 di Lampung.

Peringatan Harganas merupakan bentuk penghormatan kepada para pejuang yang rela meninggalkan keluarganya demi mempertahankan kemerdekaan. Lebih dari itu, Harganas menjadi pengingat bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang kuat, berkarakter, dan sejahtera.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 2014, tanggal 29 Juni secara resmi ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional. Tanggal ini juga memiliki makna penting dalam sejarah Program Keluarga Berencana (KB), karena pada 29 Juni 1970 menjadi tonggak dimulainya Gerakan Keluarga Berencana Nasional yang bertujuan mewujudkan keluarga kecil yang sehat, bahagia, dan sejahtera.

Dalam satu dekade terakhir, isu yang diangkat semakin kompleks, mulai dari stunting, bonus demografi, pembangunan keluarga, pengasuhan berbasis hak anak, kesehatan mental, kesiapan remaja, hingga transformasi digital dalam keluarga. Momentum Harganas kemudian menjadi ajang untuk memperkenalkan berbagai program pemerintah, seperti pembangunan keluarga, pendampingan keluarga berisiko stunting, percepatan penurunan stunting, pembinaan keluarga balita, keluarga remaja, keluarga lansia, pembinaan ketahanan keluarga, hingga penguatan peran ayah dalam pengasuhan. Artinya, Harganas selalu mengikuti dinamika persoalan keluarga Indonesia.

Hingga kini, Harganas menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa keluarga adalah fondasi utama pembangunan bangsa. Dari keluargalah lahir generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing melalui penguatan delapan fungsi keluarga, mulai dari fungsi keagamaan, pendidikan, kasih sayang, perlindungan, hingga ekonomi dan pembinaan lingkungan. Dengan keluarga yang kuat, Indonesia memiliki modal sosial yang kokoh untuk mewujudkan pembangunan manusia dan menyongsong generasi emas masa depan.

Mengapa Kini Ayah Menjadi Sorotan? Fenomena Fatherless di Indonesia dan Ancaman Senyap bagi Generasi Emas 2045

Di tengah gencarnya pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, terdapat ancaman yang tumbuh secara perlahan namun berdampak besar terhadap kualitas generasi mendatang. Ancaman itu bukan sekadar kemiskinan, stunting, atau rendahnya pendidikan, melainkan hilangnya peran ayah dalam kehidupan anak, atau yang kini dikenal sebagai fatherless.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |