Bukan Sekadar Wujud Cinta, Ini Makna Memperbanyak Selawat di Bulan Maulid Nabi

5 hours ago 2

loading...

Memperbanyak baca selawat, tidak sekadar menunjukkan cinta kepada Rasulullah semata, melainkan juga sebagai pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk terbaik. Foto: Ilustrasi/ist

Momen Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dengan memperbanyak baca selawat, tidak sekadar menunjukkan cinta kepada Rasulullah semata, melainkan juga sebagai pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk terbaik.

"Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling layak mendapat azkash shalawât dari Allah, juga menyatakan Allah sebagai (Tuhan) yang memberi,” ujar KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pada salah satu ceramah Maulid Nabi SAW, beberapa waktu lalu.

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menjelaskan bahwa membaca selawat mampu menjadi penyelamat pembacanya pada hari kiamat karena ada unsur penjagaan akidah, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan, sekaligus meyakini Nabi Muhammad sebagai makhluk-Nya.

Menurutnya, dalam redaksi shalawat yang biasa kita baca, yaitu Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ muhammad, terdapat dua unsur pengakuan yang agung; pertama adalah mengakui bahwa Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Pemberi, dan kedua mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah yang betapa pun tingggi kedudukannya, tetap sebagai hamba Allah.

Baca juga: 5 Cara Mencintai Nabi Muhammad SAW agar Kelak Dikumpulkan Bersama Beliau

Kesalahan Fatal

Pada kesempatan itu, Gus Baha mendasari argumennya dengan penjelasan Sayyid Az-Zabidi (w. 1205 H) dalam kitab Itḫâfus Sâdâtil Muttaqîn yang berbunyi wannabiyyu shallâhu ‘alaihi wasallam wa in jalla qodruhu muḫtâjun ilâ rahmatihî ta’âlâ wa fadhlih.

Betapapun tingginya kedudukan Nabi Muhammad SAW, ia tetap membutuhkan kasih sayang dan kemurahan Allah SWT.

Dijelaskan Gus Baha, umat Nasrani itu sudah melakukan kesalahan fatal, yaitu menganggap Nabi Isa sebagai tuhan, sedangkan orang Yahudi yang tidak suka dengan Nabi Isa, menuduh Isa sebagai anak hasil zina.

Sementara umat Nabi Muhammad SAW, tetap mengagungkan Rasulullah SAW dengan status sebagai hamba Allah, tidak sampai menuhankannya. “Sehingga, umat ini (umat Nabi Muhammad) tidak akan mendudukkan Rasulullah setingkat dengan Allah,” tegas Gus Baha, sebagaimana dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama (NU).

Penjelasan serupa, lanjut Gus Baha, juga disebutkan dalam salah satu bait Qashidah Burdah karya Imam Al-Bushiri (w. 696 H) yang berbunyi, da’ madda’atshun nashâra fî nabiyyihimi, waḫkum bi mâ syi’ta madḫan fîhi waḫtakimi. Jauhilah kesalahan yang diperbuat umat Nasrani terhadap nabi mereka, dan sanjunglah Muhammad sesukamu.

“Silakan memuji Nabi Muhammad setinggi langit, tapi tinggalkan kesalahan yang (pernah) dilakukan oleh orang Nasrani,” tandas Gus Baha.

“Redaksi selawat seperti inilah (Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ muhammad) yang akan menyelamatkan umat Nabi Muhammad kelak di hari kiamat,” ujar Gus Baha.

Baca juga: Kisah Haru Anak 8 Tahun yang Begitu Merindukan Nabi Muhammad SAW hingga Wafat di Madinah

(wid)

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |