loading...
Praktik perdagangan minyak rahasia bernilai miliaran dolar tengah berlangsung di bawah radar ketika konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus berkecamuk melumpuhkan Selat Hormuz. Foto/Dok
JAKARTA - Praktik perdagangan minyak rahasia bernilai miliaran dolar tengah berlangsung di bawah radar ketika konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus berkecamuk melumpuhkan Selat Hormuz . Negara-negara kaya minyak di Teluk Persia dilaporkan nekat menerobos jalur berbahaya Hormuz menggunakan armada “dark fleet” atau kapal tanker "hantu" yang mematikan pemancar sinyal pelacak (transponder).
Langkah nekat ini diambil demi menjaga pasokan minyak dunia agar tidak hancur sekaligus menahan lonjakan harga minyak mentah global yang sempat diproyeksi menembus USD150 per barel. Laporan yang dilansir Bloomberg mengungkapkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Qatar, hingga Kuwait secara terselubung mengangkut kargo minyak mentah melewati perairan Selat Hormuz.
Begitu melintasi titik kritis, kargo tersebut dipindahkan (ship-to-ship transfer) ke kapal tanker lain di perairan Teluk Oman sebelum dikirim ke pasar internasional. Kombinasi antara dark trade, pemanfaatan jalur pipa alternatif, pelepasan cadangan minyak darurat, serta penurunan permintaan global berhasil menahan harga minyak mentah dunia di kisaran USD80 hingga USD90 per barel-jauh di bawah prediksi skenario terburuk pasar.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Siap Meledak di Tengah Kebuntuan Negosiasi Damai AS-Iran, Selat Hormuz Mencekam
Praktik perdagangan minyak ilegal ini bukannya tanpa risiko mati. BUMN minyak Uni Emirat Arab, ADNOC mengonfirmasi bahwa 23 kapal armada mereka telah dihantam serangan sejak konflik AS-Iran meletus, menyebabkan satu ABK tewas dan 20 lainnya luka-luka. Pekan lalu, dua kapal ADNOC kembali ditembak di Selat Hormuz, memicu kecaman keras UEA terhadap Teheran.


















































