loading...
Orang-orang pro-perang Rusia merasa iri dengan operasi militer kilat AS di Venezuela yang berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro. Foto/El Media
MOSKOW - Bayangkan serangan mendadak di ibu kota pada tengah malam, yang berakhir dengan penangkapan pemimpin negara tersebut. Keesokan harinya, kekuatan penyerang mengumumkan akan memerintah negara itu untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Begitulah Presiden Rusia Vladimir Putin membayangkan invasi skala penuhnya ke Ukraina pada Februari 2022. Namun, justru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berhasil melakukannya di Venezuela, dalam operasi yang dikecam dunia internasional sebagai ilegal, dan membawa pergi sekutu bersejarah Kremlin, Presiden Nicolás Maduro, yang kini menghadapi persidangan di New York.
Di depan umum, para pejabat Rusia bereaksi dengan marah, mengecam serangan AS itu sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan preseden yang berbahaya.
Baca Juga: Mengapa Militer Venezuela Diam Saja saat Militer AS Mengacak-acak dan Menculik Maduro?
Tetapi di balik retorika tersebut, ada rasa hormat yang enggan—dan bahkan iri—terhadap efektivitas kudeta yang pernah dibayangkan Moskow sendiri, tetapi gagal dilaksanakan karena serangkaian kesalahan intelijen dan perlawanan kuat Ukraina.
“Operasi tersebut dilakukan dengan kompeten,” tulis saluran Telegram pro-Kremlin, Dva Mayora, yang memiliki hubungan dekat dengan militer Rusia.
“Kemungkinan besar, inilah tepatnya bagaimana ‘operasi militer khusus’ kita seharusnya berlangsung: cepat, dramatis, dan menentukan. Sulit dipercaya [Jenderal Valery] Gerasimov berencana untuk berperang selama empat tahun,” imbuhnya, merujuk pada kepala staf umum Rusia, sengaimana dikutip The Guardian, Selasa (6/1/2026).
Komentar semacam itu telah memicu suasana introspeksi di antara suara-suara pro-perang Rusia, dengan beberapa secara terbuka mempertanyakan bagaimana blitzkrieg yang dijanjikan Moskow di Ukraina berubah menjadi perang yang berkepanjangan dan mematikan.
Olga Uskova, seorang pengusaha teknologi pro-Kremlin, mengatakan dia merasa “malu” atas nama Rusia dalam menghadapi betapa beraninya intervensi AS.
“Dalam waktu sehari, Trump menangkap Maduro dan tampaknya menyelesaikan ‘operasi militer khusus’-nya sendiri,” tulisnya.
















































