Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati

3 hours ago 2

loading...

Muhamad Towil Akhirudin, Dosen dan Pengelola Universitas Darunnajah. Foto/Universitas Darunnajah.

Muhamad Towil Akhirudin, Dosen dan Pengelola Universitas Darunnajah

Setiap awal Juni, kita seperti mengulang ritual tahunan yang serba seragam. Tahun ini pun negara sudah menyiapkan temanya: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Bendera dikibarkan sehari penuh, baliho wajah pejabat dengan senyum terkembang menghiasi sudut jalan, dan pidato tentang indahnya bernegara kembali bergema dari balik podium. Tetapi sembari kita bicara soal menjadi fondasi perdamaian dunia, di dalam negeri kita justru masih sibuk saling serang.

Begitu upacara usai dan layar ponsel kembali menyala, realitas pahit langsung menampar kita kembali ke bumi: sikap intoleran yang makin galak, skandal korupsi yang tak habis-habisnya, dan keadilan hukum yang terasa berbeda tergantung siapa yang diadili. Ada jurang yang teramat dalam antara Pancasila yang kita agungkan di atas kertas dengan apa yang benar-benar kita hidupi.

Delapan dekade lalu, para pendiri bangsa merumuskan Pancasila bukan sekadar untuk kebutuhan pajangan atau materi hafalan. Bung Karno sering menyebutnya sebagai leitstar, bintang penuntun arah ke mana bahtera Indonesia ini mau dibawa berlayar. Sialnya, di tengah pusaran disorientasi sosial-politik saat ini, cahaya bintang itu kian buram. Pancasila yang sejatinya hidup dan adaptif, kini lebih sering ditarik ke sana-kemari, diposisikan sebagai bemper kepentingan politik jangka pendek, sementara nilai-nilai substansialnya perlahan ditinggalkan oleh masyarakat yang makin pragmatis.

Semua ironi ini akhirnya mengantar kita pada satu kegelisahan yang mendesak: apakah Pancasila hari ini masih benar-benar berfungsi sebagai kompas moral bangsa, atau sudah menyusut menjadi sekadar alat politik untuk membungkam kritik dan pemanis formalitas yang kehilangan jiwanya?

Mari kita bedah situasi ini mulai dari fondasi pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tengok saja bagaimana ekspresi keagamaan tumbuh begitu subur di ruang digital kita. Lini masa penuh dengan konten religius yang gampang sekali mendulang viral, perdebatan dalil perpindahan terjadi hampir setiap jam, dan tiba-tiba saja semua orang punya panggung untuk memamerkan kesalehannya. Namun, ada paradoks besar di balik keriuhan kosmetik ini.

Di dunia nyata, kerukunan kita justru jauh lebih rapuh. Sepanjang 2025 saja, SETARA Institute mencatat 221 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama, dari pembubaran paksa kegiatan retret di Cidahu, Sukabumi, sampai penyerangan rumah doa di Padang Sarai, Sumatera Barat. Berita penolakan terhadap rumah ibadah dan pembatasan hak kelompok minoritas pun belum juga reda. Sekalipun angkanya sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, ratusan kasus dalam setahun tetap menunjukkan kerukunan kita masih jauh dari pulih.

Agama dan Tuhan terlalu sering diseret ke panggung politik praktis atau dijadikan amunisi konflik daring, sementara nilai ketuhanan yang paling esensial, seperti welas asih, rasa aman, dan saling menghormati, justru menguap. Kita mendadak jadi bangsa yang sibuk mengurusi bungkus, tapi abai pada isi.

Imbas dari dangkalnya penghayatan itu langsung menghantam pilar kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita selalu bangga dengan narasi bahwa manusia Indonesia itu ramah, santun, dan menjunjung tinggi tata krama. Tapi cobalah tengok betapa bising dan brutalnya kolom komentar media sosial kita hari ini.

Begitu mudahnya jempol netizen meluncurkan pembunuhan karakter lewat aksi doxxing dan perundungan siber tanpa secuil pun rasa bersalah. Empati seolah menjadi barang langka yang kalah seksi dibanding tontonan penderitaan orang lain demi berburu angka views dan engagement.

Laporan SAFEnet bahkan menunjukkan bahwa serangan digital terhadap warga, termasuk doxing dan peretasan, melonjak dua kali lipat: dari 150 kasus pada paruh pertama 2024 menjadi 305 kasus pada periode yang sama tahun 2025. Maka ini bukan lagi sekadar kenakalan digital, melainkan alarm keras atas runtuhnya adab kita. Di balik layar ponsel, keramahan ikonik kita mendadak luntur, digantikan oleh penghakiman massal yang jauh dari kata beradab.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |