Pasokan Minyak Dunia Lenyap 1,5 Juta Barel per Hari, Pasar Energi Bakal Terguncang?

3 hours ago 2

loading...

Mampukah dunia hidup tenang usai kehilangan 9% pasokan minyak bumi saat perang di Timur Tengah berujung pada penutupan Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir. Foto/Dok

JAKARTA - Ketika perang di Timur Tengah berujung pada penutupan Selat Hormuz -jalur nadi minyak paling kritis di planet bumi- selama tiga bulan terakhir, banyak pihak meramalkan krisis ekonomi global akan segera tiba. Namun dunia ternyata diam-diam mulai beradaptasi untuk hidup dengan kehilangan 9% pasokan minyak mentah , tanpa ada kepanikan massal atau antrean bahan bakar yang mengular di pom bensin.

Fakta ini dibongkar oleh tim strategi minyak raksasa keuangan global, JPMorgan yang dipimpin oleh Natasha Kaneva, Lyuba Savinova, dan Artem Fakhretdinov setelah melakukan rangkaian pertemuan intensif dengan para pelaku pasar di China.

"Kesimpulan paling mencolok dari pertemuan kami bukanlah sekadar fakta bahwa permintaan minyak telah turun," tulis para pakar strategi JPMorgan dalam nota rahasia kepada klien mereka.

Baca Juga: IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata

"Tetapi bahwa permintaan itu telah merosot hingga 9% atau setara 1,5 juta barel per hari-secara mendadak atau tidak terduga, namun dengan sangat sedikit gangguan yang terlihat di masyarakat," bebernya.

Harga minyak dunia saat ini memang relatif bertahan di kisaran USD100 per barel dan hanya sesekali melonjak. Hal ini bisa terjadi karena dunia memasuki tahun 2026 dengan kondisi pasokan yang melimpah (oversupplied), ditambah aksi pemerintah berbagai negara yang kompak menguras cadangan minyak darurat mereka demi meredam guncangan pasar.

Namun kunci utama dari keajaiban ekonomi ini adalah sebuah istilah psikologi pasar yang disebut Demand Destruction (Kehancuran Permintaan). Sederhananya, ketika harga barang sudah terlampau mahal, konsumen akan berhenti membeli secara sukarela.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |