Pasukan Baret Biru UNIFIL di Zona Merah

9 hours ago 5

loading...

Abdul Haris Fatgehipon, Guru Besar Damai dan Resolusi Konflik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ. Foto/Istimewa

Abdul Haris Fatgehipon
Guru Besar Damai dan Resolusi Konflik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ

GUGURNYA empat prajurit TNI yaitu Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, Kopda Anumerta Farizal Rhomadon, dan Kopda Anumerta Rico Pramudia dalam misi perdamaian PBB UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), memunculkan duka dan empati yang mendalam bagi bangsa Indonesia dan dunia Internasional.

Personel UNIFIL yang gugur bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Prancis, yakni Serka Florian Motorio dari Resimen Zeni Lintas Udara ke 17. Kesedihan masyarakat Indonesia dan dunia bisa dipahami, mengingat para prajurit TNI mengemban misi mulia menjaga perdamaian dunia, sebagaimana yang diamanahkan oleh mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yakni alinea keempat yang berbunyi ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Indonesia merupakan salah satu negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sangat aktif terlibat dalam menjaga perdamaian di berbagai zona konflik. Pengiriman Kontingen Garuda dimulai sejak 8 Januari 1957 di Sinai, Mesir, dengan jumlah 559 untuk menengahi konflik Arab dan Israel. Hingga kini, Kontingen Garuda telah bertugas di berbagai negara seperti Kongo, Vietnam, Kamboja, Bosnia, hingga Timur Tengah.

Baca Juga: Kadispenad: UNIFIL Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Pada 14-21 Maret 1978, saat tentara zionis Israel melakukan invasi ke Lebanon selatan dengan alasan untuk memerangi pejuang pembebasan Palestina PLO (Palestine Liberation Organization). Invasi tentara Israel ini dikenal dengan Operasi Litani, menyebabkan 1.100-2.000 warga sipil dan pejuang Palestina tewas.

Operasi Litani yang dilakukan oleh zionis Israel dinilai oleh PBB sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara Lebanon dan kemanusiaan. Sikap tegas dilakukan oleh PBB dengan meminta Israel menarik mundur pasukan perdamaian dan membentuk pasukan perdamaian UNIFIL yang ditempatkan di garis biru perbatasan antara Israel dan Lebanon selatan.

Sejak dibentuknya UNIFIL pada tahun 1978 sampai 31 Januari 2026, jumlah personel UNIFIL yang tewas saat bertugas di garis biru antara Lebanon dan Israel berjumlah 339 orang. Data ini menunjukkan tingginya eskalasi konflik di wilayah perbatasan Israel dan Lebanon selatan yang membahayakan keselamatan pasukan perdamaian UNIFIL.

Data bulan Maret 2026, jumlah negara yang bergabung dengan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon selatan berjumlah 47 negara. Indonesia adalah negara yang mengirimkan personel tentara terbanyak dengan jumlah 755, di atas Spanyol yang mengirimkan 754 personel.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |