loading...
Eko Ernada, Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama, Kalimantan Timur dan Anggota BPJI PBNU. Foto/SindoNews
Eko Ernada
Wakil Rektor Universitas Nahdlatul Ulama, Kalimantan Timur dan Anggota BPJI PBNU
RAMADAN tahun ini hadir di tengah rangkaian perayaan keagamaan yang hampir bersamaan: Imlek, Nyepi, Idul Fitri yang akan kita jumpai pada penghujungnya, dan Paskah yang menyusul pada 5 April 2026. Kalender ini seolah menegaskan satu pesan reflektif: Indonesia adalah laboratorium pluralitas, dan keberagaman itu bukan sekadar fakta demografis, melainkan ujian kedewasaan publik yang berkelanjutan.
Secara spiritual, Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Puasa mengajarkan menahan lapar, dahaga, dan dorongan instingtif. Namun inti terdalamnya bukan soal aspek biologis itu, melainkan latihan menahan ego, prasangka, dan dorongan dominasi. Dalam masyarakat majemuk, kemampuan menahan ego menjadi krusial. Menahan lapar relatif mudah dibanding menahan diri dari keinginan memaksakan identitas di ruang publik. Ketika ego kolektif atau individu mendominasi, ruang publik gagal menjadi arena dialog rasional—seperti yang dicatat Habermas dalam konsep ruang publik: ruang di mana argumentasi rasional mengungguli dominasi simbolik.
Tantangan itu semakin nyata di era digital. Agama yang seharusnya menjadi sumber moral dan solidaritas sering direduksi menjadi alat mobilisasi identitas. Simbol keagamaan dipotong dari konteks, disebarkan sebagai senjata retorika politik, dan menimbulkan polarisasi instan. Fenomena ini menuntut kedewasaan baru: kemampuan membedakan iman pribadi dari manipulasi simbolik, menahan diri dari provokasi, dan menempatkan argumentasi rasional di atas dominasi retorik.
Dalam perspektif komparatif, hampir semua tradisi besar dunia mengajarkan fase introspeksi dan pembenahan diri. Islam dengan Ramadan, Hindu dengan Nyepi, Kekristenan dengan Prapaskah menuju Paskah, serta tradisi Tionghoa dengan pembaruan moral pada Imlek—semuanya menekankan jeda, refleksi, dan pembaruan. Tidak ada satu pun yang secara esensial mengajarkan dominasi atas yang lain. Namun sejarah membuktikan, agama kerap berubah wajah ketika bersinggungan dengan ambisi kekuasaan. Inilah godaan yang harus diwaspadai: ritual spiritual bisa berubah menjadi simbol politik, kehilangan dimensi etisnya.


















































