loading...
AS akan kirim 19 kapal selam di sekitar wilayah China. Foto/X/US Navy
WASHINGTON - Angkatan Laut AS pekan ini mengumumkan "perubahan krusial" dalam kekuatan kapal selam masa depannya. Langkah ini, menurut para analis, memberikan wawasan penting mengenai bagaimana Washington akan menghadapi potensi konflik di Pasifik, wilayah tempat China sedang membangun kekuatannya dengan pesat.
Pentagon mengumumkan bahwa 19 kapal selam serang bertenaga nuklir kelas Virginia (SSN) yang direncanakan kini akan diklasifikasikan ulang sebagai kapal selam berpeluru kendali (SSGN) dan dilengkapi dengan Virginia Payload Module (VPM). Modul ini merupakan bagian sepanjang 84 kaki (sekitar 25,6 meter) yang menambah 28 sel peluncur rudal, melengkapi 12 sel yang sudah ada pada versi kapal selam saat ini.
Sel-sel tersebut dapat memuat rudal serangan darat Tomahawk maupun kendaraan hipersonik. Dikombinasikan dengan kemampuan siluman kapal selam, hal ini akan memberikan kemampuan krusial bagi kapal-kapal baru tersebut untuk menembus pertahanan rudal Tiongkok, menurut para analis.
"Kapal selam adalah salah satu dari sedikit kemampuan yang dapat beroperasi dan bersiaga di garis depan—di dekat atau di dalam wilayah 'rantai pulau pertama'—dengan tingkat keamanan yang relatif terjaga," ujar Sidharth Kaushal, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI) di London. Ia merujuk pada deretan pulau yang membentang dari Jepang ke arah selatan melewati Taiwan hingga Filipina; wilayah di dalam garis tersebut merupakan area di mana Beijing dapat mengerahkan kekuatan tembakan terbesarnya.
"Kedua, rudal hipersonik merupakan kemampuan yang sulit ditangkal oleh lawan-lawan AS—yang sebenarnya memiliki pertahanan udara tangguh namun memiliki pertahanan lebih terbatas terhadap jenis senjata ini," kata Kaushal. Selain itu, menempatkan rudal berkecepatan tinggi dan sangat lincah bermanuver ini lebih dekat ke sasaran akan mempersempit waktu reaksi pihak lawan. Platform serangan utama yang akan dipensiunkan mengenai rencana kapal selam baru ini muncul pada saat yang krusial bagi Angkatan Laut.
Tahun ini, Angkatan Laut mulai memensiunkan empat kapal selam berpeluru kendali kelas Ohio miliknya. Kapal-kapal tersebut dikonversi menjadi SSGN (kapal selam rudal jelajah) 20 tahun lalu—beralih dari peran pencegahan nuklir sebagai kapal selam rudal balistik (atau boomer)—setelah AS dan Rusia mengurangi kekuatan nuklir mereka melalui perjanjian START II tahun 1993.
Dahulu dipersenjatai dengan rudal balistik Trident berhulu ledak nuklir, keempat kapal selam kelas Ohio yang telah dimodifikasi ini masing-masing mampu membawa hingga 154 rudal Tomahawk, serta menjadi aset berharga untuk misi pencegahan dan pertempuran di seluruh dunia.
Dalam wawancara dengan CNN pada tahun 2021, Bradley Martin—mantan kapten Angkatan Laut yang kini menjadi peneliti angkatan laut di lembaga pemikir RAND Corp—menyebut SSGN kelas Ohio sebagai "platform dengan kemampuan terbesar dalam meluncurkan muatan rudal konvensional."
Selama serangan Operasi Midnight Hammer tahun 2025 terhadap fasilitas nuklir Iran, sebuah kapal selam kelas Ohio dikerahkan untuk memperkuat serangan yang dilakukan oleh pesawat pengebom B-2.
Namun, salah satu dari keempat SSGN kelas Ohio tersebut, yakni USS Georgia, telah memulai proses penonaktifan bulan lalu, sementara tiga kapal lainnya dijadwalkan menjalani proses serupa dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut Submarine Industrial Base Council yang berbasis di Washington, DC, pemensiunan kapal-kapal tersebut akan mengurangi kemampuan serangan bawah laut Angkatan Laut hingga 60%.
SSGN kelas Virginia yang pertama dijadwalkan baru akan bergabung dengan armada pada tahun 2029, sehingga Angkatan Laut kemungkinan akan mengalami penurunan kemampuan serangan rudal pada masa transisi tersebut. Kapal selam baru yang terakhir dijadwalkan baru akan bergabung dengan armada pada tahun 2038.

















































