Hukum Kepemimpinan dalam Organisme Pesantren

16 hours ago 4

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Dalam diskusi tentang kepemimpinan, kita sering mendengar istilah "the law of the lead" hukum tentang bagaimana seorang pemimpin harus berada di depan, memberi arah, dan menjadi teladan. Tapi apa jadinya jika hukum ini kita baca dalam konteks pesantren sebagai organisme hidup? Apakah kepemimpinan di pesantren bekerja dengan cara yang sama seperti di perusahaan atau lembaga pemerintah?

Ketika kita membaca fenomena pesantren sebagai organisme hidup, hukum kepemimpinan ini tidak bisa dipahami secara mekanis. Ia harus dibaca dalam kerangka sistem kehidupan yang kompleks, di mana kepemimpinan bukan sekadar posisi, tapi fungsi yang menyebar ke seluruh jaringan.

Kepemimpinan sebagai Sistem Saraf Pusat

Dalam tubuh manusia, otak adalah pusat kendali. Ia mengirim sinyal ke seluruh tubuh, mengoordinasikan gerak, menjaga keseimbangan. Tapi otak tidak bekerja sendiri. Ia bergantung pada jaringan saraf yang tersebar, pada sel-sel yang menerima dan meneruskan pesan. Tanpa jaringan itu, otak hanyalah organ mati. Bahkan ketika otak sedang tidur pun, seluruh sistem tubuh tetap bekerja dengan tertib.

Demikian pula dalam organisme pesantren. Kiai atau pengasuh adalah "otak" yang memberi visi dan arah. Tapi agar visi itu hidup, ia harus diterjemahkan ke dalam jaringan yang lebih luas: para ustadz, santri senior, pengurus, alumni, bahkan masyarakat sekitar.

KH. Mahrus Amin di Darunnajah tidak pernah bekerja sendiri. Beliau bersama KH. Abdul Manaf dan KH. Qomaruzzaman membangun sistem kepemimpinan kolektif. Mereka sadar bahwa pohon pisang yang hanya punya satu batang akan rapuh. Tunas-tunas harus tumbuh, dan ketika tunas itu dipisahkan, ia harus memiliki akar sendiri, batang sendiri, daun sendiri, tapi tetap membawa DNA yang sama.¹

Di sinilah "the law of the lead" bekerja secara organik: pemimpin tidak hanya memimpin, tapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan kepemimpinan tumbuh di mana-mana.

Dua Sayap yang Tak Boleh Pincang

Dalam tulisan salah seorang kiai, menyebutkan bahwa organisme pesantren tidak akan terbentuk tanpa "all out", dan "all out"-nya harus "lillāh". Ini adalah dua sayap kepemimpinan.

Sayap pertama: All Out. Pemimpin harus total. Tidak setengah-setengah. Di Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi sering mengulang-ulang filosofi yang menggertarkan hati: "Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur."² Ini bukan sekadar slogan, tapi hukum alam organisasi yang kejam: siapa yang tidak bergerak total, akan tersingkir oleh zaman.

Kita bisa lihat bagaimana KH. Nawawi Thoyib di Sidogiri. Beliau merintis ekonomi pesantren dari nol, bukan untuk kaya, tapi agar umat tidak terjerat rentenir. Kini BMT Sidogiri punya 256 cabang. Itu buah dari kepemimpinan yang total. Atau KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng yang mewariskan sanad keilmuan hingga ke seluruh Nusantara.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |