Jejak China dalam Konflik Myanmar: dari Ekspor Revolusi hingga Kartu Geopolitik

11 hours ago 6

loading...

Analis geopolitik menilai China aktif melakukan intervensi dalam konflik Myanmar sejak 1960-an. Foto/Handout/via South China Morning Post

JAKARTA - Sejumlah akademisi China disebut-sebut berupaya menulis ulang sejarah terkait keterlibatan Beijing dalam konflik sipil Myanmar, khususnya dukungan terhadap Partai Komunis Burma (CPB) dan penerusnya, United Wa State Army (UWSA).

Menurut analis geopolitik asal Swedia, Bertil Lintner, sejumlah sejarawan China dan akademisi asing yang dekat dengan pandangan pemerintah Beijing kini mempromosikan narasi bahwa dukungan China terhadap CPB lebih didorong dinamika lokal di Provinsi Yunnan, bukan bagian dari strategi nasional China untuk mengekspor revolusi pada era Mao Zedong.

Baca Juga: Junta Myanmar Makin Kuat dengan Dukungan China, Oposisi Melemah

“Versi tersebut membuat pemerintah pusat China tampak kurang bersalah dalam campur tangan terhadap perang saudara Myanmar,” sebut Lintner.

Dikutip dari Irrawady, Kamis (14/5/2026), dia menegaskan bahwa bantuan besar yang diterima CPB sejak akhir 1960-an tidak mungkin dijalankan hanya oleh pejabat lokal Yunnan tanpa persetujuan pemerintah pusat.

Lintner menjelaskan persiapan dukungan China terhadap CPB dimulai setelah Jenderal Ne Win mengambil alih kekuasaan di Myanmar pada 1962. Sejumlah kader CPB yang sebelumnya hidup di pengasingan di China mulai diorganisasi kembali di bawah koordinasi kelompok khusus di Beijing.

China kemudian memutuskan memberi dukungan penuh kepada CPB. Momentum itu muncul ketika Ne Win menggelar pembicaraan damai di Yangon pada 1963, yang memungkinkan sejumlah kader CPB kembali terhubung dengan jaringan gerilya di Myanmar.

Salah satu tokoh utama CPB, Thakin Ba Thein Tin, disebut membawa perangkat radio dari China agar pasukan komunis di Myanmar dapat berkomunikasi langsung dengan pimpinan di Beijing.

Lintner juga mengungkap bahwa sebelum operasi besar CPB dimulai pada 1968, para kader komunis Burma diperkenalkan kepada kelompok pejuang Kachin yang dipimpin Naw Seng, veteran Perang Dunia II yang sebelumnya mendapat perlindungan di China.

Bantuan China

Pada 1 Januari 1968, pasukan CPB memasuki wilayah Shan State dari perbatasan China dengan dukungan ribuan “relawan China” yang terdiri dari Red Guards dan personel Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.

Menurut Lintner, Beijing mengirim bantuan dalam skala besar, mulai dari senjata ringan, mortir, ranjau, kendaraan militer, radio, logistik, hingga pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan pembangkit listrik tenaga air di markas CPB di Panghsang.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |