loading...
Mahatma Gandhi dan Etika Pemerintahan: Refleksi atas Kepemimpinan Kontemporer Prabowo Subianto
Oktafiandi, S.Si., M.I.Kom.
(Kadidat Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta)
Diskursus tentang pemerintahan pada masa transisi kepemimpinan selalu menarik untuk dibaca secara reflektif. Alih-alih menilai secara tergesa-gesa, pendekatan yang lebih produktif adalah memahami arah kepemimpinan sebagai proses yang terus berkembang. Dalam konteks ini, pemikiran Mahatma Gandhi dapat digunakan bukan sebagai alat kritik yang tajam, melainkan sebagai kerangka etis untuk membaca nilai-nilai positif yang mungkin hadir dalam praktik pemerintahan kontemporer.
Gandhi memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral yang berakar pada komitmen terhadap kesejahteraan bersama. Pemerintahan, dalam pandangannya, tidak hanya berfungsi sebagai pengelola administrasi negara, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial. Perspektif ini relevan ketika kita melihat gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan stabilitas, persatuan, dan ketertiban sebagai fondasi kehidupan bernegara.
Salah satu kesamaan yang dapat dibaca secara positif adalah penekanan pada persatuan nasional. Gandhi menempatkan persatuan sebagai prasyarat utama bagi proses pembangunan sosial dan politik. Dalam konteks Indonesia hari ini, narasi persatuan yang kerap disampaikan oleh Presiden Prabowo dapat dibaca sebagai upaya menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk dan pasca-kontestasi politik yang panjang.
Gandhi juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang tegas namun berorientasi pada tanggung jawab moral. Ketegasan, bagi Gandhi, bukanlah ekspresi dominasi, melainkan bentuk komitmen terhadap keteraturan sosial. Gaya kepemimpinan Prabowo yang dikenal tegas dapat dilihat sebagai upaya menghadirkan kepastian dan ketegasan negara, terutama dalam konteks menjaga stabilitas dan ketertiban nasional.
Dalam dimensi komunikasi politik, Gandhi menekankan kesederhanaan pesan dan kejelasan arah. Kepemimpinan yang efektif, menurutnya, tidak harus selalu kompleks dalam retorika, tetapi konsisten dalam tujuan. Hal ini memiliki resonansi dengan gaya komunikasi kepemimpinan Prabowo yang cenderung langsung, lugas, dan berorientasi pada pesan-pesan besar tentang kebangsaan dan kemandirian.
Konsep Swaraj, atau pemerintahan mandiri, juga dapat dibaca dalam konteks kontemporer sebagai dorongan terhadap kemandirian nasional. Gandhi memaknai Swaraj bukan hanya sebagai kemerdekaan politik, tetapi sebagai kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri. Narasi kemandirian, swasembada, dan penguatan kapasitas nasional yang muncul dalam kepemimpinan Prabowo memiliki keselarasan nilai dengan gagasan ini.


















































