loading...
Rizka Fajrina S, Ketua Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Darunnajah. Foto/Dok. SindoNews
Rizka Fajrina S
Ketua Program Studi Administrasi Bisnis
Universitas Darunnajah
BAGI banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), situasi ekonomi hari ini terasa seperti berjalan di lorong sempit yang gelap. Setiap keputusan usaha membawa risiko, sementara ruang untuk salah semakin kecil. Kenaikan harga bahan baku, daya beli masyarakat yang melemah, serta ketidakpastian global membuat UMKM harus beroperasi dalam kondisi yang dapat disebut sebagai “zona merah” ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, UMKM tidak hanya berjuang untuk berkembang, tetapi terlebih dahulu untuk bertahan. Banyak pelaku usaha yang terpaksa mengencangkan ikat pinggang, mengurangi produksi, bahkan menutup sebagian lini usaha. Di tengah tekanan itu, pemasaran tidak lagi sekadar alat promosi, melainkan menjadi penentu apakah sebuah usaha masih bisa bernapas atau tidak.
Selama ini, pemasaran kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas menjual produk. Padahal, dalam situasi krisis, pemasaran sejatinya adalah cara UMKM membaca perubahan dan meresponsnya secara bijak. Ia menjadi ruang refleksi antara apa yang diinginkan pasar dan apa yang mampu dilakukan oleh pelaku usaha.
Perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dihindari. Konsumen kini jauh lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka membandingkan harga, menimbang manfaat, dan semakin sensitif terhadap kualitas layanan. UMKM yang gagal memahami perubahan ini perlahan akan tersisih, meskipun produknya tidak kalah bersaing.
Di sinilah orientasi pasar memainkan peran penting. UMKM yang bertahan biasanya adalah mereka yang mau mendengar suara konsumen, menangkap keluhan kecil, serta membaca kecenderungan pasar dengan cermat. Kepekaan ini sering kali lahir bukan dari data besar, melainkan dari interaksi sehari-hari yang konsisten dan jujur dengan pelanggan.
Seiring dengan itu, digitalisasi membuka peluang sekaligus tantangan baru. Media sosial dan platform daring menawarkan ruang promosi yang luas dengan biaya relatif terjangkau. Banyak UMKM yang akhirnya mampu menjangkau konsumen di luar wilayahnya, sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan.


















































