Bukittinggi — Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Komisi V, Hj. Yesi Endriani, S.M., melaksanakan reses perorangan masa sidang III Tahun 2026 sekaligus sosialisasi digitalisasi Dasawisma di Hall Balaikota Bukittinggi, Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti kader Dasawisma serta sejumlah unsur terkait.
Camat Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB) dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya peran kader Dasawisma dalam membantu pemerintah melakukan pendataan dan menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Data yang akurat dinilai sangat dibutuhkan untuk mendukung berbagai program pembangunan, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan kesejahteraan masyarakat.
“Kader Dasawisma memiliki peran penting dalam membantu pemerintah, terutama dalam pendataan dan penyampaian informasi terkait kondisi keluarga di lingkungan masing-masing. Dengan pendataan yang baik, program pemerintah dapat lebih tepat sasaran, ” ujarnya.
Selanjutnya, Hj. Yesi Endriani, S.M. menjelaskan bahwa digitalisasi Dasawisma menjadi langkah penting untuk memperkuat pendataan keluarga. Menurutnya, kader tidak hanya berperan dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam menyediakan data yang dapat menjadi dasar pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Sementara itu, narasumber lainnya, Tati dan Nova, turut memberikan pemaparan terkait peran kader serta berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari Dinas Kesehatan.
Narasumber dari Dinas Kesehatan, Susi Yanti, S.K.M., M.M., menerangkan tentang penyakit Tuberkulosis (TBC), termasuk cara penularan, gejala serta pentingnya pengobatan hingga tuntas. Ia menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui percikan batuk dan air liur dari penderita.
“TBC merupakan penyakit serius yang harus kita cegah bersama. Satu orang penderita yang tidak ditangani dengan baik dapat menularkan kepada orang lain, bahkan diperkirakan dapat menularkan kepada sekitar 10 orang, ” terang Susi.
Menurutnya, TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya, seperti tulang dan kulit. Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. TBC juga dapat menyerang anak-anak sehingga pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan oleh keluarga.
Susi menegaskan, pencegahan TBC penting dilakukan karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penderita, tetapi juga dapat memengaruhi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Pengobatan TBC membutuhkan waktu yang cukup panjang, minimal enam bulan dan pada kondisi tertentu dapat berlangsung hingga 18 bulan, sehingga pasien harus disiplin mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Selain TBC, dalam kegiatan tersebut juga disampaikan materi mengenai stunting. Para kader didorong untuk ikut memperhatikan kondisi tumbuh kembang anak serta meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pemenuhan gizi dan pencegahan stunting sejak dini.
Menutup kegiatan, Hj. Yesi Endriani, S.M. kembali mengingatkan masyarakat dan para kader mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama persoalan sampah. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mulai melakukan pengelolaan dan pemilahan sampah dari rumah.
“Masalah sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Sampah perlu dipilah dan dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi persoalan bagi lingkungan. Mari kita mulai dari keluarga dan lingkungan masing-masing, ” ujar Yesi.
Kegiatan reses sekaligus sosialisasi digitalisasi Dasawisma tersebut diharapkan dapat memperkuat peran kader dalam pendataan keluarga, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan, serta mendorong masyarakat menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan secara bersama-sama.(**)








































