loading...
SIG meraih ESG Award 2026 atas inovasi semen rendah karbon dan konsistensi perusahaan dalam menurunkan emisi. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) meraih ESG Award 2026 dari Yayasan KEHATI atas inovasi semen rendah karbon dan konsistensi perusahaan dalam menurunkan emisi. Penghargaan tersebut memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari strategi bisnis SIG sekaligus pengembangan produk bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan.
"Penerapan prinsip ESG merupakan landasan bagi SIG dalam menjalankan operasional bisnis. Komitmen ini didasari oleh kesadaran bahwa ESG bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi merupakan competitive advantage untuk kesuksesan perusahaan di masa depan," kata Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni dikutip pada Jumat (14/8/2026).
Penghargaan diberikan kepada SIG yang masuk kategori Sector Capital Market, Listed Company. Trofi penghargaan diserahkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat kepada Pgs Group Head of Strategic Growth & ESG SIG Muhammad Taqiyuddin di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga: Percepat Distribusi, SIG Jamin Pasokan Semen di Aceh Aman
Salah satu bentuk penerapan ESG SIG dilakukan melalui pengembangan semen hijau yang menggunakan material dan proses lebih ramah lingkungan. Produk tersebut memiliki emisi karbon hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional, dengan tetap memenuhi standar kualitas sesuai peruntukannya.
SIG juga mempercepat dekarbonisasi proses produksi melalui peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, dan sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF). Sepanjang 2025, pemanfaatan bahan bakar alternatif meningkat 24% menjadi 681 ribu ton, setara dengan pengurangan konsumsi batu bara hingga 467 ribu ton dan mendorong thermal substitution rate (TSR) mencapai 9,77%.
Di sektor energi, SIG memperluas penggunaan sumber energi yang lebih bersih melalui pemasangan panel surya di sejumlah unit operasional dan pemanfaatan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Teknologi tersebut mengonversi panas buang dari proses produksi menjadi listrik.
Berbagai upaya tersebut berkontribusi terhadap penurunan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) Scope 1 sebesar 21% dibandingkan baseline 2010 dan emisi Scope 2 sebesar 15% dibandingkan baseline 2019.


















































