Jembatan di Kolaka Utara Ambruk Diterjang Arus, 115 KK di Desa Pasampang Terisolasi

22 hours ago 4

loading...

Jembatan penyeberangan antardusun sepanjang kurang lebih 25 meter di Desa Pasampang, Kecamatan Pakue Tengah, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara (Sultra) ambruk. Foto/SindoNews/Muh Rusli

KOLAKA - Jembatan penyeberangan antardusun sepanjang kurang lebih 25 meter di Desa Pasampang, Kecamatan Pakue Tengah, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara (Sultra) ambruk usai diterjang arus sungai pada Selasa malam 1 April 2026. Akibatnya, 115 Kepala Keluarga (KK) terisolasi dan sarana air bersih ketiga desa terputus.

Jembatan yang menghubungkan antar dusun tersebut ambruk pada pukul 20.30 Wita. Satu keluarga yang bermukim di bantaran sungai dilaporkan sempat terjebak arus namun berhasil menyelamatkan diri.

Kades Pasampang Haerul Akbar mengungkapkan, derasnya luapan sungai di desanya baru terjadi kali ini. Warga yang terisolasi di dusun setempat telah diinformasikan agar tidak keluar wilayah saat ini karena aksesnya telah terputus.

"Kami panik saat sungai meluap karena terdapat keluarga yang diseberang sungai, terdiri dari seorang ibu dan anak-anaknya yang berusia 2,4 dan 6 tahun sempat terjebak dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi alhamdulillah ternyata selamat dan hanya rumahnya yang rusak," bebernya, Rabu (2/4/2025).

Selain jembatan, akses sarana air bersih yang juga mengalir ke tiga desa yakni Powalaa, Labipi, dan Pasampang juga terputus. Masyarakat khususnya di Desa Pasampang dikatakan kesulitan air bersih dan butuh tindakan perbaikan secepatnya.

"Akses air bersih kami saat ini lumpuh. Kalaupun harus diperbaiki maka butuh sekitar sepekan baru kembali normal karena pipa-pipanya juga hanyut. Jadi saya harap pemerintah segera lakukan perbaikan secepatnya karena ini kebutuhan mendesak," pintanya.

Haerul menyebut, jembatan itu diakses hampir 80% warganya dari luar Dusun 5 setiap hari menuju lahan perkebunan mereka. Jika tidak segera ditanggapi dan dibangun ulang bakal berdampak pada perekonomian warga desanya.

Haerul juga mengemukakan jika aliran sungai di lokasi jembatan yang hilang juga merupakan area wisata pemandian. Akibatnya sejumlah gazebo rusak hingga objek wisata setempat ditutup saat ini.

“Dampak dari luapan sungai tersebut juga mengakibatkan abrasi sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Kepada pemda mohon segera lakukan normalisasi karena bakal menyapu area persawahan jika dibiarkan mendangkal saat sungai kembali meluap,” ucapnya.

Di sisi lain, Haerul mengaku kesal karena hingga saat ini pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kolut dikatakan tidak kunjung datang menemui warga di desanya. Adapun BPBD dikabarkan telah tiba di lokasi sekitar pukul 12.00 Wita setelah menyambangi beberapa desa terdampak.

"Terus terang saya kesal kepada pemerintah. Bukan persoalan bantuan tetapi setidaknya cukup hadir beri semangat ke warga kami serta solusi penanganan atas musibah ini," keluhnya.

(cip)

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |