Kim Jong-un Ingin Rakyat Korut Lebih Banyak Bersenang-senang, Ada Siasat Besar di Baliknya

10 hours ago 8

loading...

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ingin rakyatnya lebih banyak bersenang-senang. Korea Utara kini membangun banyak tempat hiburan. Foto/KCNA

PYONGYANG - Kedai kopi, taman air, hingga pusat perbelanjaan. Korea Utara (Korut)—negara yang selama ini jarang diasosiasikan dengan hiburan dan kesenangan—kini mengalami perkembangan tak biasa: semakin banyak tempat bagi warganya untuk bersenang-senang.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang juga dikenal menikmati kemewahan, sedang mengembangkan berbagai cara agar warganya membelanjakan kekayaan mereka.

Baca Juga: Perbanyak Senjata Nuklir Korut, Kim Jong-un Membangun Fasilitas Uranium Baru

Data bea cukai China menunjukkan fenomena tersebut. Impor peralatan pijat Korea Utara melonjak hingga 40 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pengiriman treadmill meningkat lebih dari 600 persen. Piano dan bahkan mobil bemper juga mulai membanjiri negara tersebut.

Dorongan konsumsi ini meluas ke pusat perbelanjaan mewah, resor pantai, dan destinasi ski yang bermunculan di berbagai wilayah Korea Utara, menurut statistik perdagangan, laporan media pemerintah, serta wawancara dengan lima pengunjung terbaru dan dua pembelot Korea Utara.

Namun, menurut para analis yang dikutip Reuters, Minggu (13/9/2026), kebijakan tersebut bukan semata-mata bertujuan memberikan akses lebih luas kepada masyarakat terhadap kemewahan.

Dengan mengarahkan belanja masyarakat melalui jaringan hiburan dan ritel yang dikendalikan negara, Kim memperkuat kontrol pemerintah atas perdagangan, menekan pasar informal, sekaligus membuka sumber pendapatan dan pertumbuhan ekonomi baru bagi negara bersenjata nuklir tersebut.

Ubah Korut Jadi Negara Konsumtif

Strategi tersebut membuat aktivitas produksi, distribusi, dan aliran modal yang sebelumnya terkonsentrasi di pasar informal perlahan ditarik ke dalam ruang ekonomi resmi yang dikelola negara. Demikian dikatakan Kang Seong-hyeon, peneliti di Hyundai Research Institute, lembaga think tank yang berbasis di Seoul.

Saluran konsumsi terus berkembang meskipun Korea Utara menghadapi sanksi berat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk pembatasan terhadap barang mewah, energi, dan perdagangan mineral yang dirancang untuk menghambat program senjata Kim.

Bank sentral Korea Selatan mengatakan ekonomi Korea Utara tumbuh 3,5 persen pada 2025, mencatat pertumbuhan di atas 3 persen selama tiga tahun berturut-turut.

Perubahan tersebut bahkan mulai menarik perhatian orang luar.

Setelah mengunjungi Pyongyang pada Mei lalu, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menyebut perkembangan ibu kota Korea Utara tersebut “luar biasa” dan mengatakan Pyongyang kini menyerupai “kota modern mana pun” di Asia Timur.

Video media sosial yang telah diverifikasi para jurnalis memperlihatkan warga menikmati cappuccino dan berbelanja peralatan rumah tangga di Rangnang Aeguk Kumgang Service Complex, pusat perbelanjaan mewah di Pyongyang yang dibuka tahun lalu.

Warga juga dapat menikmati minuman di Hwasong Taedonggang Beer Restaurant, tempat minum yang telah beroperasi selama dua tahun dan mendapat sorotan media pemerintah.

Pada April, Kim juga mengunjungi toko hewan peliharaan baru bersama putrinya, Kim Ju-ae. Sang putri terlihat tertarik pada anak-anak kucing dan anjing.

Dari Peretasan Kripto hingga Perang Rusia-Ukraina

Menurut para peneliti Korea Selatan, ledakan sektor hiburan di Pyongyang antara lain ditopang oleh sejumlah sumber pendapatan, termasuk pencurian mata uang kripto, pengerahan pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina, serta ekspor batu bara dan mineral lainnya.

Pejabat dan pakar keamanan siber dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain berulang kali mengaitkan pencurian aset kripto dengan kelompok peretas yang disponsori negara Korea Utara.

Institute for National Security Strategy, lembaga think tank Korea Selatan yang didanai pemerintah, memperkirakan Korea Utara memperoleh hingga USD14,4 miliar dari keterlibatannya dalam perang Rusia-Ukraina antara Agustus 2023 hingga Desember 2025.

Arus uang tersebut kemudian mengalir ke berbagai sektor ekonomi Korea Utara. Sebagian masyarakat juga memperoleh keuntungan dari perdagangan informal.

Namun, akumulasi kekayaan menciptakan persoalan baru.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |